Diberdayakan oleh Blogger.

Pengikut

Blogger news

Blogroll

Blogger templates

RSS

pemeliharaan budidaya belimbing

Budidaya Tanaman Belimbing


Budidaya Tanaman Belimbing

(Averrhoa carambola L.)
 Varietas: Belimbing Demak, Sembiring, Paris, Dewi, dll.

Iklim:Curah hujan tinggi atau daerah musim kemarau dengan perawatan baik.

Daerah: 0 - 500 m dpl.
Tanah: Tanah bertekstur ringan hingga berat, sedikit berpasir, berdrainase
baik, dan agak asam, pH 5,0 - 6,0.


Perbanyakan : Penyambungan

Untuk mendapatkan bibit yang sama seperti induknya sekarang, bibit
belimbing diperbanyak dengan penyambungan. Sebagai batang atasnya
diambil dari pohon yang sudah diketahui produktifitas dan mutu
buahnya tinggi. Rata-rata bibit yang berumur satu tahun sudah dapat
mulai berbuah tetapi sebaiknya bibit yang sudah kuat pohonnya yaitu
setelah 2 - 3 tahun yang boleh untuk berbuah.

Penanaman :Jarak tanam untuk belimbing adalah 6 x 6 m.

Lubang tanam dibuat 80 x 80 x 100 cm beberapa minggu sebelum
penanaman. Biasanya dilakukan pada musim kemarau.

Sebagai campuran untuk tanah, tempat penanaman dapat dipakai pupuk
kandang sebanyak ± 0,3 m3.
Lubang tanam yang sudah diberi pupuk dasar dan sudah diangin-
anginkan beberapa hari siap untuk ditanami. Dengan bibit yang baik
dan cara penanaman yang tepat, kita akan mendapatkan tanaman
belimbing yang mampu memberikan hasil secara optimal.
Bersamaan dengan itu, bibit yang berumur 6 - 12 bulan, bisa ditanam
di lubang ini. Karena bibit ini umumya diperlihara dalam kantung
plastik, maka sebelum ditanam buka dulu pot plastiknya secara hati-
hati. Maksudnya, agar akar bibit tidak terganggu dan tanah yang
menutup akar tidak berantakan. Posisi bibit persis di tengah lubang
dan dikubur sebatas pangkal batang. Usahakan batas penanaman ini
sejajar dengan permukaan tanah di sekitarnya, untuk mencegah
menggenangnya air bila suatu saat hujan besar. Terakhir, tanah
dipadatkan sedikit sambil disiram. Untuk mengurangi penguapan air,
tanah dapat ditutup dengan jerami atau rumput kering. Peneduh juga
sebaiknya dipasang supaya bibit yang baru tidak mati kena sengatan
panas matahari.


Pemupukan:Dosis pupuk per pohon menurut umur tanaman

Umur tanaman (th) Pupuk kandang (m3/th) NPK 15:15:15 (gr)
0 - 1 0,3 50 (tiap 3 bulan)
1 - 2 0,3 100 (tiap 3 bulan)
2 - 3 0,4 150 (tiap 3 bulan)
>3 0,05 50 (tiap 6 bulan)

Setelah memasuki masa produksi, formulasi pupuk dapat diganti dengan
pupuk yang berkadar P dan K lebih tinggi dari N karena unsur inilah
yang banyak dipakai tanaman untuk pembentukan buah, misalnya
formulasi pupuk 10-20-20. Frekuensi pemupukan bagi tanaman yang
telah berproduksi adalah 2 kali setahun yaitu pertama pada awal
musim hujan dan yang kedua pada akhir musim hujan atau saat memasuki
musim kemarau.

Pemeliharaan:

Untuk mendapatkan buah belimbing yang bagus, penampilannya mulus,
dan rasanya manis, tanaman butuh perawatan yang memadai. Perawatan
tanaman dimulai sejak bibit ditanam hingga tanaman tidak berproduksi
lagi. Perawatan itu meliputi penyiraman, pemupukan, pemangkasan, dan
penjarangan buah.

Penyiraman

Tanaman belimbing banyak membutuhkan air sepanjang hidupnya. Di
daerah yang sepanjang tahun mendapatkan hujan, tentu air tidak
manjadi masalah. Namun di daerah yang memiliki/mengalami musim
kering, kebutuhan tanaman akan air perlu mendapat perhatian.
Penyiraman dapat dilakukan dengan cara disiram sampai daerah sekitar
tajuk tanaman basah. Meskipun selalu butuh air, tanaman ini kurang
menyukai air tergenang. Oleh sebab itu tempat tumbuh tanaman harus
diberi sarana drainase yang baik. Bila ada kelebihan air, segera
dialirkan ke luar kebun agar tidak menggenang.

Pemberian mulsa

Untuk mempertahankan kelembaban dan untuk mengurangi penguapan air
tanah yang berlebihan, sebaiknya tanah diberi penutup. Pada umumnya
areal belimbing ditanami dengan rumput Taiwan sebagai mulsa. Rumput
yang diberikan tidak banyak dan ditanam bersamaan dengan penanaman
bibit. Seiring dengan pertumbuhan tanaman, rumput itupun berkembang.
Selanjutnya rumput dibiakkan sampai memenuhi areal penanaman
belimbing, kecuali di sekitar tajuk. Rumput-rumput lain (selain
rumput yang ditanam) yang dapat mengganggu atau merugikan tanaman
dapat dimatikan dengan manual atau herbisida selektif.

Pemangkasan dan pembuatan para-para.

1. Tujuan pemangkasan

Tujuan pemangkasan adalah untuk membentuk tajuk tanaman, meremajakan
tanaman berumur tua, membuang cabang atau ranting yang tumbuhnya
tidak beraturan, mendorong produksi buah, dan untuk memudahkan
panen. Memangkas tanaman biasanya dengan menggunakan gergaji untuk
cabang besar, gunting dahan untuk ranting.

2. Cara pemangkasan

Dilakukan dengan irisan miring ke atas. Dengan tujuan agar air
siraman maupun air hujan, langsung meluncur ke bawah. Dengan begitu
akan cepat kering, walaupun sempat terguyur. Luka pangkasan yang
lebar sebaiknya jangan dibiarkan begitu saja, tapi sebaiknya
dilumuri dengan bahan pelindung seperti parafin, cat minyak, atau
ter, sehingga luka akan terhindar dari serangan bakteri. Terutama
berlaku untuk cabang atau dahan berukuran besar.
Dengan memangkas cabang-cabang bawah, diharapkan tanaman tumbuh ke
atas. Setelah tanaman mencapai ketinggian 175 cm, pemangkasan
dihentikan dan cabang-cabang dibiarkan tumbuh semestinya.
Pada saat itu dibuat para-para/ajir yang menopang cabang-cabang
tanaman. Tujuan pembuatan para/ajir ini agar cabang dan ranting
tidak melengkung ke bawah. Para-para/ajir ini akan terasa manfaatnya
bila tanaman sudah berbuah. Cabang/ranting akan tersangga cukup kuat
dan tidak akan melengkung atau patah meski tanaman sarat dengan
buah. Agar kuat, para-para/ajir dibuat dari kayu ulin atau pipa
besi. Setelah para-para/ajir dibuat, pemangkasan dapat dilanjutkan
yaitu memangkas cabang-cabang yang tumbuh di bawah atau ke arah
bawah para-para/ajir. Sedangkan cabang-cabang yang berada di atas
para-para/ajir dibiarkan tumbuh.


Agar buah berukuran besar dan mulus

Umur 1 tahun, tanaman belimbing sudah mulai berproduksi. Untuk
mendapatkan hasil yang optimal, pembuahan perlu ditunda. Maksudnya,
buah pertama sebaiknya dibuang semua, tidak ada buah yang dibiarkan
menjadi besar. Maksudnya agar tanaman tumbuh kuat dulu, baru pada
tahun kedua buah dipelihara dan dibesarkan. Buah pertama yang
dibiarkan membesar, sering kurang baik bagi tanaman. Tanaman akan
menjadi lemah dan mudah terserang hama/penyakit. Dengan ditundanya
pembuahan tanaman akan tumbuh kuat, dan tahun-tahun selanjutnya
tanaman mampu menghasilkan buah-buah yang bagus. Agar buah berukuran
besar, maka perlu penjarangan. Bila dibiarkan begitu saja, buah
tidak bisa berkembang secara optimal. Karena distribusi makanan
diperuntukkan bagi banyak buah, dan buah tidak leluasa berkembang
karena berdesakan. Penjarangan dimaksudkan agar buah lebih leluasa
berkembang dan distribusi makanan hanya untuk buah yang dipelihara.
Dengan demikian buah akan menjadi besar. Buah yang dipelihara adalah
buah yang sehat, tidak cacat, dan tumbuh pada cabang-cabang besar.
Sedangkan buah yang tumbuh pada ranting-ranting kecil, yang cacat
atau sakit, dibuang semua. Dalam penjarangan ini diusahakan tidak
ada buah yang menggerombol atau berdempetan. Satu pohon diperkirakan
hanya ada 100 buah belimbing yang dipelihara sampai besar. Dengan
demikian, buah benar-benar tumbuh maksimal pada cabang yang kokoh
sehingga buah tidak mudah rontok, atau cabang patah. Penjarangan
dilakukan saat buah sebesar 2,5 - 5 cm atau 5 - 10 hari setelah
bunga bermekaran.
Untuk mendapatkan buah belimbing yang mulus pada saat panen nanti,
maka buah harus dibungkus. Selain untuk menghindari hama/penyakit,
khususnya hama lalat buah, pembungkusan dapat membuat buah tampak
lebih bersih dan menarik. Kapan mulai melaksanakan pembungkusan buah
di pohon? Segera setelah penjarangan, buah harus sudah dibungkus.
Pembungkusan buah di pohon hendaknya dilakukan dengan hati-hati agar
buah itu tidak lepas dari tangkainya. Sebagai pembungkusnya dapat
digunakan kertas koran. Caranya, ambil selembar kertas koran selebar
1/4 halaman, lalu digulung. Besarnya lubang gulungan itu
diperkirakan mampu memuat buah belimbing yang berkembang maksimal.
Caranya bisa menggunakan bantuan botol atau gelas yang digulungkan
pada kertas koran itu.
Setelah gulungan terbentuk, gelas/botolnya dapat ditarik keluar.
Setelah itu, dengan hati-hati buah muda di pohon dibungkus dengan
gulungan koran tadi. Bagian pangkal (tangkai buah) maupun ujungnya
dapat dijepit dengan staples. Buah dibungkus satu per satu, sampai
buah di pohon terbungkus semua.

Pengendalian Hama:

Tanaman belimbing dapat terserang hama atau penyakit yang mengganggu
pertumbuhan tanaman. Pengendlaian hama dan penyakit harus dilakukan
sedini mungkin agar kerugian yang lebih besar dapat dihindarkan.

Hama

Hama yang sering menyerang tanaman belimbing adalah tungau. Hama
yang berukuran kecil ini biasanya bersembunyi di permukaan daun
bagian bawah. Tungau ini mengisap cairan tanaman dan meninggalkan
bekas titik-titik halus berwarna kecoklatan pada permukaan bawah
daun. Serangan berat dapat mengganggu pertumbuhan tanaman. Hama
tungau hanya dapat diberantas dengan pestisida sistemik atau kontak
yang banyak tersedia. Selain itu, buah-buah muda umumnya peka
terhadap serangan lalat buah. Buah yang sudah terlanjur dihinggapi
lalat buah, tidak akan dapat diselamatkan, artinya kualitas buah
akan menurun. Satu-satunya jalan adalah mencegah serangan hama
tersebut. Untuk mencegah lalat buah, maka buah perlu dibungkus sejak
masih pentil. Sebagai tindakan pencegahan terhadap serangan hama-
hama yang merugikan, 2 minggu sekali tanaman disemprot pestisida,
yang takarannya disesuaikan dengan dosis yang tertera pada
kemasannya.


Penyakit

Kadang kala belimbing diserang cendawan jelaga yaitu pada musim
hujan dan udara lembab. Tandanya dapat terlihat jelas sebagai
lapisan hitam di atas permukaan daunnya. Untuk pencegahan dapat
dilakukan penyemprotan dengan bubuk sulfur atau bordeaux.

Pemanenan

Pada waktu pemetikan perlu dilakukan dengan hati-hati agar buah
tidak luka atau memar, karena hal ini akan mempengaruhi mutu
belimbing.
Oleh karena itu sebaiknya buah dipungut hati-hati, dengan memisahkan
buah yang kena penyakit dan buah yang sehat. Jangan dipetik terlalu
matang bila akan dikirim ke tempat jauh, dan buah yang sudah dipetik
hendaknya ditampung dalam wadah yang sebelumnya sudah dialasi dengan
kain bekas atau bahan lain seperti jerami.
Pemetikan buah dilakukan kira-kira 60 - 65 hari setelah bunga mekar,
buah berwarna kuning muda atau hijau kekuningan (kira-kira 25%
kuning dan 75% hijau). Pemetikan dilakukan pagi hari ketika suhu
udara tidak begitu panas. Agar buah tidak rusak, pemetikan hendaknya
dilakukan dengan hati-hati. Buah yang masih terbungkus koran ditarik
dengan tangan, kemudian dimasukkan ke dalam keranjang atau wadah
lain yang telah disediakan. Pengumpulan buah dari kebun sebaiknya
dilakukan di tempat teduh, terlindung dari sinar matahari, agar buah
terjaga kesegarannya.

Perlakuan buah setelah panen

Buah diangkut dari kebun dan diletakkan di tempat yang teduh.
Kemudian buah dilepaskan dari bungkusnya. Buah-buah yang cacat
dipisahkan dari buah yang baik. Klasifikasi mutu buah biasanya
ditentukan oleh penampilan (kemulusan buah) dan besarnya. Belimbing
ini digolongkan dalam 3 kualitas, yaitu kualitas A, B, dan
C.Kualitas A adalah buah yang berukuran besar, 1 kg hanya berisi 4
buah. Kualitas B, per kilogramnya berisi 6 buah, sedangkan kualitas
C 8 - 9 buah.
Selain itu, buah belimbing juga diklasifikasikan berdasarkan
warnanya. Indeks warna 1, buah berwarna hijau penuh. Indeks warna 2,
buah berwarna hijau kekuningan (warna kuning kurang dari 25%).
Indeks warna 3, buah yang memiliki warna kuning 26 - 55 %. Indeks
warna 4, buah yang memiliki warna kuning 76 - 100%. Yang terakhir,
indeks warna 5, sepenuhnya berwarna orange.
Pemisahan berdasarkan warna ini biasanya untuk tujuan ekspor. Buah
yang memiliki indeks warna 1 tidak layak untuk dijual karena rasanya
masih asam dan kelat. Buah berindeks warna 2 dan 3 adalah buah
belimbing yang cocok untuk ekspor karena masih bisa tahan lama dan
rasanyapun enak. Sedangkan buah yang memiliki indeks warna 4 dan 5,
tidak sesuai untuk ekspor, meskipun rasanya manis, karena tidak
tahan lama.
Bila untuk keperluan ekspor, buah dipilih yang bersih, mulus, keras,
dan pejal. Agar buah tetap terjaga mutunya sampai di pasar, yaitu
warnanya tidak berubah, tidak busuk atau rusak, dan buah tetap
pejal, perlu penanganan tersendiri. Setelah dipilih, buah dilap
dengan kain halus untuk menghilangkan kotoran yang menempel pada
buah. Kemudian setiap buah dibungkus dengan film regang (plastik PVC
tipis, setebal 0,14 mm) yang berukuran 30 x 30 cm.
Buah yang telah dibungkus kemudian disusun dalam kotak/kardus yang
telah dilapisi spon. Buah disusun dengan pangkal buah di bawah
(berdiri), dan setaip kardus hanya berisi 18 - 24 buah. Selanjutnya
dus-dus berisi buah belimbing itu disimpan sementara di ruangan
dingin (kira-kira 50ÂșC), sebelum diangkut untuk diekspor. Dengan
sistem pembungkusan dan penyimpanan di ruangan dingin ini mutu buah
akan terjaga dan dapat tahan sampai 3 minggu.
Buah yang akan dipasarkan ke tempat jauh, sebaiknya dikemas rapi
dalam kotak khusus agar buah sampai di tempat tujuan dengan utuh.
Kotak alias peti ini biasanya dibuat dari kayu. Ukuran peti yang
terbaik 60 x 28 x 28 cm. Dinding peti jangan ditutup rapat tapi
diberi lubang yang jaraknya lebih kecil dari ukuran buah belimbing.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

pemeliharaan tanaman durian

PEMELIHARAAN TANAMAN DURIAN

Sudah tidak bisa dipungkiri lagi bahwa durian merupakan salah satu buah yang paling digemari. Hal ini disebabkan oleh rasanya yang lezat dan legit. Disamping itu juga bisa diolah menjadi berbagai bentuk aneka kuliner. Misalnya ; ketan durian, tempuyak, campuran permen, es, susu, dan sebagainya.
Untuk mendapatkan durian berkualitas dan dapat berbuah tepat pada waktunya diperlukan pemeliharaan yang teratur. Pemeliharaan tersebut adalah sebagai berikut:
1. Pemupukan
a) Cara memupuk
Pada tahap awal buatlah selokan melingkari tanaman. Garis tengah selokan disesuaikan dengan lebarnya tajuk pohon. Kedalaman selokan dibuat 20-30 cm. Tanah cangkulan disisihkan di pinggirnya. Sesudah pupuk disebarkan secara merata ke dalam selokan, tanah tadi dikembalikan untuk menutup selokan. Setelah itu tanah diratakan kembali, bila tanah dalam keadaan kering segera lakukan penyiraman,
a) Jenis dan dosis pemupukan
Jenis pupuk yang digunakan untuk memupuk durian adalah pupuk kandang, kompos, pupuk hijau serta pupuk buatan. Pemupukan yang tepat dapat membuat tanaman tumbuh subur. Setelah tiga bulan ditanam, durian membutuhkan pemupukan susulan NPK (15:15:15) 200 gr perpohon.
Selanjutnya, pemupukan susulan dengan NPK itu dilakukan rutin setiap empat bulan sekali sampai tanaman berumur tiga tahun. Setahun sekali tanaman dipupuk dengan pupuk organik kompos/pupuk kandang 60-100 kg per pohon pada musim kemarau. Pemupukan dilakukan dengan cara menggali lubang mengelilingi batang bawah di bawah mahkota tajuk paling luar dari tanaman.
Tanaman durian yang telah berumur ≥ 3 tahun biasanya mulai membentuk batang dan tajuk. Setelah itu, setiap tahun durian membutuhkan tambahan 20-25% pupuk NPK dari dosis sebelumnya.
Apabila pada tahun ke-3, durian diberi pupuk 500 gram NPK per pohon maka pada tahun ke-4 dosisnya menjadi 600-625 gram NPK per pohon. Kebutuhan pupuk kandang juga meningkat, berkisar antara 120-200 kg/pohon menjelang berbunga durian membutuhkan NPK 10:30:10. Pupuk ini ditebarkan pada saat tanaman selesai membentuk tunas baru (menjelang tanaman akan berbunga).
2. Pemangkasan Bentuk.
Agar pertumbuhan dan produksi tanaman optimal dan memudahkan dalam pemeliharaan, harus dilakukan pemangkasan bentuk . Hal yang diperhatikan dalam pemangkasan bentuk adalah :a). Tanaman berumur masih berumur 1 tahun dengan tinggi batang utama 70-100 cm. b). Tunas-tunas liar disekitar dahan dibuang, mahkota berbentuk cembung seperti payung c) Pembentukan tajuk dilakukan dengan memelihara satu batang utama dan 10 calon cabang primer terpilih.

3. Pengairan.
Durian membutuhkan banyak air pada pertumbuhannya, tapi tanah tidak boleh tergenang terlalu lama atau sampai terlalu basah. Bibit durian yang baru ditanam membutuhkan penyiraman satu kali sehari, terutama kalau bibit ditanam pada musim kemarau. Setelah tanaman berumur satu bulan, air tanaman dapat dikurangi sekitar tiga kali seminggu. Durian yang dikebunkan dengan skala luas mutlak membutuhkan tersedianya sumber air yang cukup. Dalam pengairan perlu dibuatkan saluran air drainase untuk menghindari air menggenangi bedengan tanaman.
4. Penyiangan
Penyiangan dilakukan bila gulma telah tumbuh disekitar tanaman. Tanah disekitar batang digemburkan, tetapi jangan sampai merusak perakaran tanaman. Gulma bisa dibiarkan sebagai mulsa, tetapi sebaiknya lahan dibawah kanopi pohon dupayakan bebas gulma. Untuk menghindari persaingan antara tanaman dan rumput di sekeliling selama pertumbuhan, perlu dilakukan penyiangan (diameter 1 m dari pohon durian).
5. Penjarangan buah
Penjarangan buah bertujuan untuk mencegah kematian durian agar tidak menghabiskan energinya untuk proses pembuahan. Penjarangan berpengaruh terhadap kelangsungan hidup, rasa buah, ukuran buah dan frekuensi pembuahan setiap tahunnya. Penjarangan dilakukan bersamaan dengan proses pengguguran bunga, begitu gugur bunga selesai, besoknya harus dilakukan penjarangan (tidak boleh ditunda-tunda). Penjarangan dapat dilakukan dengan menyemprotkan hormon tertentu (Auxin A), pada saat bunga atau bakal buah baru berumur sebulan. Pada saat itu sebagian bunga sudah terbuka dan sudah dibuahi. Ketika hormon disemprotkan, bunga yang telah dibuahi akan tetap meneruskan pembuahannya sedangkan bunga yang belum sempat dibuahi akan mati dengan sendirinya. Jumlah buah durian yang dijarangkan 50-60% dari seluruh buah yang ada. (Penulis Inang Sariati)

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

cara budidaya tanaman duku

1. Asal Usul
Duku merupakan tanaman tropis beriklim basah yang berasal dari Malaysia dan IndonesiaVietnam, Myanmar, dan India. Penyebaran duku tidak secepat manggis. Nama lain yang sering digunakan untuk Lansium domesticum adalah Aglaila dooko Griffth atau Aglaila domesticum (Corr.) Pelegrin. Di dunia ini dikenal tiga macam spesies Lansium yang mirip satu sama lain, yakni duku, langsat, dan pisitan (getahnya paling banyak). Namun, yang terkenal adalah duku dan langsat. (Kalimantan Timur). Dari negara asalnya, duku menyebar ke
Di luar jawa, duku sering disebut langsat. Namun, di daerah jawa, buah langsat sering disebut kokosan. Duku ini mempunyai banyak varietas ada yang buahnya besar sekali, tetapi ada pula yang kecil. Ada yang berbiji besar, ada pula yang tidak berbiji, tetapi ada pula yang apomiksis (biji vegetatif). Sentra produksi duku yang penting adalah Palembang, Pasarminggu (Condet), Karanganyar dan Kulonprogo (Nanggulan). Singosari (Malang) terkenal dengan langsatnya yang tanpa biji. Negara penghasil duku adalah Filipina, Malaysia dan Indonesia.

1.2.Manfaat
Buah duku pada prakteknya selalu dimakan dalam keadaan segar setelah dikupas dengan tangan, tetapi buahnya yang tanpa biji dapat dibotolkan dalam sirop. Kayunya yang berwarna coklat muda keras dan tahan lama, serta digunakan untuk tiang rumah, gagang perabotan, dan sebagainya. Kulit buahnya yang dikeringkan di Filipina dibakar untuk rnengusir nyamuk. Kulit buah itu juga dimanfaatkan sebagai obat anti diare, berkat kandungan oleoresinnya. Bagian tanaman lainnya yang digunakan sebagai obat adalah bijinya yang ditumbuk digunakan oleh penduduk setempat di Malaysia untuk menyembuhkan demam, dan kulit kayunya yang rasanya sepet digunakan untuk mengobati disentri dan malaria; tepung kulit kayu juga digunakan sebagai tapal untuk menyembuhkan bekas gigitan kalajengking.
 BAB II
ISTEMATIKA DAN BOTANI
2.1.Sistematika
Kerajaan: Plantae
Divisi: Magnoliophyta
Kelas: Magnoliopsida
Ordo: Sapindales
Famili: Meliaceae
Genus: Lansium
Spesies: L. domesticum

2.2.Botani
Pohon yang berukuran sedang, dengan tinggi mencapai 30m dan gemang hingga 75 cm. Batang biasanya beralur-alur dalam tak teratur, dengan banir (akar papan) yang pipih menonjol di atas tanah. Pepagan (kulit kayu) berwarna kelabu berbintik-bintik gelap dan jingga, mengandung getah kental berwarna susu yang lengket (resin).
Daun majemuk menyirip ganjil, gundul atau berbulu halus, dengan 6-9 anak daun yang tersusun berseling, anak daun jorong (eliptis) sampai lonjong, 9-21 cm × 5-10 cm, mengkilap di sisi atas, seperti jangat, dengan pangkal runcing dan ujung meluncip (meruncing) pendek, anak daun bertangkai 5-12 mm.
Bunga terletak dalam tandan yang muncul pada batang atau cabang yang besar, menggantung, sendiri atau dalam berkas 2-5 tandan atau lebih, kerap bercabang pada pangkalnya, 10-30 cm panjangnya, berambut. Bunga-bunga berukuran kecil, duduk atau bertangkai pendek, menyendiri, berkelamin dua. Kelopak berbentuk cawan bercuping-5, berdaging, kuning kehijauan. Mahkota bundar telur, tegak, berdaging, 2-3 mm × 4-5 mm, putih hingga kuning pucat. Benang sari satu berkas, tabungnya mencapai 2 mm, kepala-kepala sari dalam satu lingkaran. Putiknya tebal dan pendek.
Buah buni yang berbentuk jorong, bulat atau bulat memanjang, 2-4(-7) cm × 1,5-5 cm, dengan bulu halus kekuning-kuningan dan daun kelopak yang tidak rontok. Kulit (dinding buah) tipis hingga tebal (lk. 6 mm). Berbiji 1-3, pipih, hijau, berasa pahit; biji terbungkus oleh ‘daging’ (arilus) yang putih bening dan tebal, berair, manis hingga masam. Kultivar-kultivar yang unggul memiliki biji yang kecil atau tidak berkembang (rudimenter), namun arilusnya tumbuh baik dan tebal, manis.
Perbanyakan duku yang dilakukan menggunakan biji mengakibatkan lambannya tanaman dalam menghasilkan buah. Tumbuhan ini memiliki perilaku apomiktik, yaitu dari biji keluar kecambah bukan dari embrio melainkan dari jaringan induk sehingga keturunannya memiliki karakter yang serupa dengan induknya. Perbanyakan vegetatif dilakukan dengan pencangkokan dan sambung pucuk.

2.3.Sentra Penanaman
Di Indonesia duku terutama ditanam di daerah Jawa (Surakarta), Sumatera (Komering, Sumatera Selatan) dan Jakarta (Condet).

BAB III
SYARAT TUMBUH DAN PEDOMAN BUDIDAYA

3.1. SYARAT TUMBUH
Iklim
1) Angin tidak terlalu mempengaruhi pertumbuhan dari tanaman duku tetapi tidak dapat tumbuh optimal di daerah yang kecepatan anginnya tinggi.
2) Tanaman duku umumnya dapat tumbuh di daerah yang curah hujannya tinggi dan merata sepanjang tahun. Tanaman duku tumbuh secara optimal di daerah dengan iklim basah sampai agak basah yang bercurah hujan antara 1500-2500 mm/tahun.
3) Tanaman duku tumbuh optimal pada intensitas cahaya matahari tinggi.
4) Tanaman duku dapat tumbuh subur jika terletak di suatu daerah dengan suhu rata-rata 19 derajat C.
5) Kelembaban udara yang tinggi juga dapat mempercepat pertumbuhan tanaman duku, sebaliknya jika kelembaban udara rendah dapat menghambat pertumbuhan tanaman duku
Media Tanam
1) Tanaman duku dapat tumbuh baik sekali pada tanah yang banyak mengandung bahan organik, subur dan mempunyai aerasi tanah yang baik. Sebaliknya pada tanah yang agak sarang/tanah yang banyak mengandung pasir, tanaman duku tidak akan berproduksi dengan baik apabila tidak disertai dengan pengairan yang cukup.
2) Derajat keasaman tanah (pH) yang baik untuk tanaman duku adalah 6–7, walaupun tanaman duku relatif lebih toleran terhadap keadaan tanah masam.
3) Di daerah yang agak basah, tanaman duku akan tumbuh dan berproduksi dengan baik asalkan keadaan keadaan air tanahnya kurang dari 150 m di bawah permukaan tanah (air tanah tipe a dan tipe b). Tetapi tanaman duku tidak menghendaki air tanah yang menggenang karena dapat menghambat pertumbuhan dan produksi tanaman.
4) Tanaman duku lebih menyukai tempat yang agak lereng karena tanaman duku tidak dapat tumbuh optimal pada kondisi air yang tergenang. Sehingga jika tempatnya agak lereng, air hujan akan terus mengalir dan tidak membentuk suatu genangan air

Ketinggian Tempat
Umumnya tanaman duku menghendaki lahan yang memiliki ketinggian tidak lebih dari 650 m dpl
3.2. PEDOMAN BUDIDAYA
Pembibitan
1) Persyaratan Benih
Kualitas bibit tanaman duku yang akan ditanam sangat menentukan produksi duku.Oleh sebab itu bibit duku harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut :
a) Bebas dari hama dan penyakit
b) Bibit mempunyai sifat genjah
c) Tingkat keseragaman penampakan fisik seperti warna, bentuk dan ukuran lebih seragam dari bibit lain yang sejenis
d) Bibit cepat tumbuh.
2) Penyiapan Benih
Perbanyakan dan penanaman duku umumnya masih diperbanyak dengan benih atau dari semai yang tumbuh spontan di bawah pohonnya, kemudian dipelihara dalam pot sampai tinggi hampir 1 meter dan sudah dapat ditanam di lapangan. Sehingga tingkat keberhasilan perbanyakan generatif cukup tinggi walaupun memerlukan waktu yang relatif lama. Daya perkecambahan dan daya tahan semai akan lebih baik sejalan dengan ukuran benih dan hanya benih-benih yang berukuran besar yang hendaknya digunakan dalam usaha pembibitan. Pertumbuhan awal semai itu lambat sekali, dengan pemilihan yang intensif diperlukan waktu 10–18 bulan agar batang duku berdiameter sebesar pensil, yaitu ukuran yang cocok untuk usaha penyambungan atau penanaman di lapangan, tetapi di kebanyakan pembibitan untuk sampai pada ukuran tersebut diperlukan waktu 2 kali lebih lama. Perbanyakan dengan stek dimungkinkan dengan menggunakan kayu yang masih hijau, namun memerlukan perawatan yang teliti. Terkadang cabang yang besar dicangkok, sebab pohon ynag diperbanyak dengan cangkokan ini dapat berbuah setelah beberapa tahun saja, tetapi kematian setelah cangkokan dipisahkan dari pohon induknya cenderung tinggi presentasenya.
3) Teknik Penyemaian Benih
Waktu penyemaian benih sebaiknya pada musim hujan agar diperoleh keadaan yang selalu lembab dan basah. Cara pembuatan media penyemaian dapat berupa tanah yang subur/campuran tanah dan pupuk organik (pupuk kandang atau kompos) dengan perbandingan sama (1:1). Jika perlu media tanam dapat ditambahkan sedikit pasir. Tempat persemaian bisa berupa bedengan, keranjang/kantong plastik atau polybag. Tetapi sebaiknya tempat untuk persemaian menggunakan kantong plastik agar mempermudah dalam proses pemindahan bibit.
4) Pemeliharaan Pembibitan/Penyemaian
Bibit duku tidak memerlukan perawatan khusus kecuali pemberian air yang cukup terutama pada musim kemarau. Selama 2 atau 3 minggu sejak bibit duku ditanam perlu dilakukan penyiraman dua kali setiap hari yaitu pagi dan sore hari, terutama pada saat tidak turun hujan. Selanjutnya cukup disiram satu kali setiap hari. Kalau pertumbuhannya sudah benar-benar kokoh, penyiraman cukup dilakukan penyiraman secukupnya jika media penyemaian kering. Penyulaman pada bibit diperlukan jika ada bibit yang mati maupun bibit yang pertumbuhannya terhambat. Rumput liar yang mengganggu pertumbuhan bibit juga hrus dihilangkan. Untuk meningkatkan pertumbuhan bibit perlu diberi pupuk baik pupuk organik berupa pupuk kandang dan kompos maupun pupuk anorganik berupa pupuk TSP dan ZK sesuai dengan dosis dan kadar yang dianjurkan.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

pemeliharaan tanaman jeruk

Pemeliharaan dan Pemupukan Tanaman Jeruk PENYULAMAN

Dilakukan pada tanaman yang tidak tumbuh.

PENYIANGAN

Gulma dibersihkan sesuai dengan frekuensi pertumbuhannya, pada saat pemupukan juga dilakukan penyiangan.

PEMBUBUNAN

Jika ditanam di tanah berlereng, perlu diperhatikan apakah ada tanah di sekitar perakaran yang tererosi. Penambahan tanah perlu dilakukan jika pangkal akar sudah mulai terlihat.

PEMANGKASAN

Pemangkasan bertujuan untuk membentuk tajuk pohon dan menghilangkan cabang yang sakit, kering dan tidak produktif/tidak diinginkan. Dari tunas-tunas awal yang tumbuh biarkan 3-4 tunas pada jarak seragam yang kelak akan membentuk tajuk pohon. Pada pertumbuhan selanjutnya, setiap cabang memiliki 3-4 ranting atau kelipatannya.

Bekas luka pangkasan ditutup dengan fungisida atau lilin untuk mencegah penyakit. Sebaiknya celupkan dulu gunting pangkas ke dalam Klorox/alkohol. Ranting yang sakit dibakar atau dikubur dalam tanah.

PEMUPUKAN

Pemberian jenis pupuk dan dosis (gram/tanaman) setelah penanaman adalah
sebagai berikut:

a) 1 bulan: Urea=100; ZA=200; TSP=25; ZK=100; Dolomit=20; P.kandang=20 kg/tan.
b) 2 bulan: Urea=200; ZA=400; TSP=50; ZK=200; Dolomit=40; P.kandang=40 kg/tan.
c) 3 bulan: Urea=300; ZA=600; TSP=75; ZK=300; Dolomit=60; P.kandang=60 kg/tan.
d) 4 bulan: Urea=400; ZA=800; TSP=100; ZK=400; Dolomit=80; P.kandang=80 kg/tan.
e) 5 bulan: Urea=500; ZA=1000; TSP=125; ZK=500; Dolomit=100; P.kandang=100 kg/tan.
f) 6 bulan: Urea=600; ZA=1200; TSP=150; ZK=600; Dolomit=120; P.kandang=120 kg/tan.
g) 7 bulan: Urea=700; ZA=1400; TSP=175; ZK=700; Dolomit=140; P.kandang=140 kg/tan.;
h) 8 bulan: Urea=800; ZA=1600; TSP=200; ZK=800; Dolomit=160; P.kandang=160 kg/tan.
i) >8 bulan: Urea >1000; ZA=2000; TSP=200; ZK=800; Dolomit=200; P.kandang=200 kg/tan.

PENGAIRAN DAN PENYIRAMAN

Penyiraman jangan menggenangi batang akar. Tanaman diairi sedikitnya satu kali dalam seminggu pada musim kemarau. Jika air kurang tersedia, tanah di sekitar tanaman digemburkan dan ditutup mulsa.

PENJARANGAN BUAH

Pada tahun di mana pohon jeruk berbuah lebat, perlu dilakukan penjarangan supaya pohon mampu mendukung pertumbuhan dan bobot buah serta kualitas buah terjaga. Buah yang dibuang meliputi buah yang sakit, yang tidak terkena sinar matahari (di dalam kerimbunan daun) dan kelebihan buah di dalam satu tangkai. Hilangkan buah di ujung kelompok buah dalam satu tangkai utama terdapat dan sisakan hanya 2-3 buah.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

pemeliharaan budidaya lengkeng

Panduan Budidaya Lengkeng Dataran Rendah

Pedoman Budidaya Lengkeng Dataran Rendah
Perbanyakan tanaman dilakukan dengan cangkok dan okulasi. Perbanyakan dengan biji tidak dianjurkan karena umur berbuahnya cukup lama (lebih dari tujuh tahun). Selain itu, bibit dari biji sering tumbuh menjadi lengkeng jantan yang tidak mampu berbuah. Bibit okulasi/cangkokan mulai berbuah pada umur empat tahun. Budi daya tanaman Lengkeng ditanam pada jarak tanam 8 m x 10 m atau 10 m x 10 m dalam lubang tanam berukuran 60 cm x 60 cm x 50 cm. Setiap lubang diberi pupuk kandang yang telah matang sebanyak 20 kg. Pupuk buatan yang diberikan sebanyak l00-300 g urea, 300-800 g TSP (400- 1000 kg SP-36), dan l00-300 g KCl untuk setiap tanaman. Pupuk diberikan tiga kali dalam selang tiga bulan. Setelah panen buah, pemberian pupuk cukup sekali sebanyak 300 g urea, 800 g TSP, dan 300 g KCl per pohon.
Pemeliharaan
Pemeliharaan penting adalah pemangkasan cabang yang tidak produktif dan ranting-ranting yang menutup kanopi. Dengan demikian, sinar matahari dapat masuk merata ke seluruh bagian cabang. Tumbuhan parasit (benalu) harus cepat dibuang. Tanaman lengkeng termasuk mudah tumbuh, tetapi sukar berbunga. Oleh karena itu, diperlukan stimulasi pembungaan dengan jalan mengikat kencang batang yang berada satu meter di atas permukaan tanah. Batang dililit melingkar sebanyak 2-3 kali dengan kawat baja. Tanaman mulai berbunga pada umur 4-6 tahun. Biasanya,tanaman ini berbunga pada bulan Juli-oktober. Buah matang lima bulan setelah bunga mekar.
Hama dan Penyakit
Hama yang biasa menyerang tanaman lengkeng adalah serangga pengisap buah (Tessaratoma javanica). Kelelawar merupakan binatang hama yang sering merusak buah yang matang. Penyakit yang sering menyerang saat musim hujan adalah mildu seperti yang menyerang tanaman rambutan. Untuk mencegah serangan kelelawar, pentil buah dibrongsong dengan brongsong yang dibuat khusus.
Panen dan Pasca Panen
Musim panen lengkeng di bulan Januari-Februari dengan produksi 300–600 kg per pohon. Lengkeng termasuk buah nonklimakterik sehingga harus dipanen matang di pohon karena tidak dapat diperam. Pemanenan dilakukan dengan alat yang dapat memotong tangkai rangkaian buah. Alat panen berupa gunting bertangkai panjang yang tangkainya dapat diatur dari bawah. Tanda-tanda buah matang adalah warna kulit buah menjadi kecokelatan gelap, licin, dan mengeluarkan aroma. Rasanya manis harum, sedangkan buah yang belum matang rasanya belum manis.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

budidaya tanaman bengkuang

BUDIDAYA TANAMAN BENGKUANG

BUDIDAYA TANAMAN BENGKUANG
Pendahuluan
Bengkuang adalah tanaman buah family Papilenaceae, berupa herba lelilit, memanjat dan membelit kekiri, tinggi tanaman 5 – 6 meter, akar tunggang, umbi berdiameter anatar 5 – 30 cm,

kulit coklat muda, gading buah putih, batang berbulu, daun trifoliate, letak daun bergantian, beracun, anak daun berbentuk bulat telur, bunga putih atau ungu, polong 8 – 14 cm, panjangnya bebrbentuk pipih, biji berjumlah antara 4 – 12 buah, berwarna coklat, berdiameter lebih kuirang 1 cm dan beracun. Umbi bengkuang dimakan mentah, berair dan manis.
1. Persiapan lahan
Lahan yang akan diusahakan tanaman Bengkuang terlebih dahulu diolah, yaitu dengan cara dicangkul. Cangkulan tanah harus baik dan halus, kemudian dibuat bedengan.Bedengan yang disbuat disesuaikan dengan keadaan lahan yangb ada, namun biasanya bedengan dibuat dengan lebar 1 meter, panjang 15 meter sampai 20 meter atau disesuaikan dengan keadaan lahan yang ada, tinggi bedengan 25 cm, jarak antar bedengan 50 cm.
Bedengan yang telah dibuat kemudian diberkan pupuk kandang (pupuk organik) sebanyak 4 karung. Cara pemberian pupuk kandang yaitu diletakan atau dipasang pada barisan yang akan ditanami bengkuang dengan tujuan agar lebih hemat dan efisien.
2. Penanaman
Tanaman bengkuang diperbanyak dengan biji. Sebelum ditanam biji bengkuang sebaiknya diperlakukan, yaitu benih direndam selam 6 – 12 jam, selanjutnya benih yang telah direndam diangkat dan ditiriskan kedalam wadah atau bakul yang terlebih dahulu diberi alas dengan daun, dan diletakkan diruang yang lembab atau basah, kemudian dibiarkan selama satu malam atau sampai berkecambah.
Setelah berkecambah benih dapat ditanam pada lahan yang telah dipersiapkan. Penanaman bengkuang dengan cara menugalkan benih pada barisan dengan kedalaman 5 cm. Jarak tanam 15 x 15 cm yang setiap lubang tanam 1 biji benih bengkuang. Kebutuhan benih untuk lahan 1 ha adalah 25 – 30 kg.
3. Pemeliharaan.
a. Pemupukan Susulan
Pengamatan tanaman selama pertuimbuhan dilakukan dengan teratur dan intensif. Seminggu setalah penanaman perlu diamati apabila ada tanaman yang tidak tumbuh, segera lakukan penyulaman tanaman agar tanaman tumbuh merata dengan baik.
Tanaman bengkuang setelah berumur 1 bulan, bila pertumbuhan kurang baik, maka dilakukan pemberian pupuk susulan dengan menggunakan pupuk NPK. Kebutuhan pupuk NPK 150 kg/ha.
b. Penyiangan
Penyiangan perlu dilakukan apabila gulma penggangu tanaman telah tumbuh, dengan cara mencabut atau dengan alat dengan cara di danger.
c. Pemangkasan
Tanaman bengkuang umur 6 – 8 minggu dilakukan pemangkasan dengan menggunakan alat pemangkasan, yaitu gunting atau pisau. Bila tanaman bengkuang telah menjalar panjang, batang tanaman dipangkas atau dipotong dan ditinggalkan 50 cm dari pangkal tanaman.
Pemangkasan di ulangi setelah tiga minggu atau melihat pertumbuhan tanaman. Apabila tanaman telah menjalar panjang, maka segera lakukan pemangkasan lagi. Tanaman bengkuang pada umur 4 bulan biasanya telah dilakukan pemangkasan sebanyak 4 kali. Adapun tujuan pemangkasan tanaman bengkuang adalah untuk membentuk umbi agar buah bengkuang bentuknya bias sesuai dengan yang kita kehendaki atau buahnya besar, bulat, halus dan kualitasnya baik.
d. Pengendalian Hama
Apabila terdapat gangguan hama pada tanaman bengkuang, yaitu ditandai adamnya serangan pada daun, maka dapat dikendalikan dengan menyemprot insektisida. Biasanya tanaman bengkuang tidak banyak hama yang merusak tanaman, namun perlu dilakukan pengamatan yang intensif.
4. Panen
Tanaman bengkuang dapat dipanen pada umur4 bulan.Namun apabila menghendaki buah bengkuang dengan ukuran lebih besar maka panen dapat dilakukan pada umur 5 bulan dan maksimal umur 8 bulan harus sudah dipanen, karena mutu buah akan berubah yaitu buahnya berserat dan kurang renyah.
Cara panen tanaman bengkuang yaitu dengan cara mencabut batang tanaman, apabila lahannya kering dan tidak gembur, maka caranya dapat dilakukan dengan menggunakan cangkul atau alat lainnya untuk mengangkat buah bengkuang kepermukaan.
Bengkuang yang telah diangkat kepermukaan langsung dikumpulkan, dipotong pada pangkal buah, dan batang tanaman juga dipotong, namun ditinggalkan ujung buah 15 cm, tujuannya untuk pengikatan buah bengkuang pada waktu pemasaran.
Bengkuang yang telah dipanen dilakukan perlakuan sebagai berikut :
1. Bersihkan dengan cara dicuci agar buah bengkuang bersih, nampak baik, sehat, mulus dan menarik
2. Dilakukan pengeringan dengan cara dihamparkan pada ruangan terbuka yang telah diberikan alas/tikar, dan selanjutnya dibersihkan dari akar dan batang yang masih ikut terbawa dengan menggunakan pisau.
3. Pengelompokkan buah atas dasar buah yang besar, sedang dan kecil untuk memudahkan dan mempercepat waktu pengikatan buah.
4. Buah bengkuang dipasarkan dalam satuan ikat. Seikat bengkuang terdiri 2 – 5 buah bengkuiang, tergantung besar kecilnya buah bengkuang. Kalau buah bengkuang yang sedang 3 – 4 buah/ikat.
5. Sebelum dipasarkan biarkan bengkuang pada tempat terbuka, dan jangan disimpan dalam karung yang tertutup, supaya buah bengkuang tetap dalam keadaan segar.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

pemeliharaan tanaman apel

PEMELIHARAAN TANAMAN A P E L

Apel merupakan tanaman buah tahunan yang berasal dari daerah Asia Barat dengan iklim sub tropis. Di Indonesia apel telah ditanam sejak tahun 1934 hingga saat ini. Oleh karena itu apabila ingin memperoleh hasil/ produksi yang maksimal, pertanaman apel memerlukan pemeliharaan yang optimal.
Beberapa perlakuan pemeliharaan apel dapat dicermati pada tahapan berikut ini :

Penyulaman
Penyulaman dilakukan pada tanaman yang mati atau dimatikan karena tidak menghasilkan buah. Caranya dengan menanam tanaman baru atau menyulam tanaman lama. Penyulaman sebaiknya dilakukan pada musim penghujan.

Penyiangan
Penyiangan dilakukan apabila di sekitar tanaman induk terdapat banyak gulma yang dianggap dapat mengganggu tanaman. Penyiangan juga tergantung dari jarak tanam apel. Pada kebun apel dengan jarak tanam yang rapat (± 3m x 3 m), penyiangan hampir tidak perlu dilakukan karena tajuk daun menutupi permukaan tanah sehingga rumput-rumput tidak dapat tumbuh. Sedangkan jarak tanam apel yang agak luas (lebih dari 3 m x 3 m), penyiangan dilakukan bila gulma benar-benar mengganggu pertumbuhan dan keindahan.

Pembumbunan
Pembumbunan biasanya dilakukan bersamaan dengan penyiangan dimana penyiangan diikuti dengan pembumbunan tanah. Pembumbunan dimaksudkan untuk meninggikan kembali tanah di sekitar tanaman apel agar tidak tergenang air dan juga untuk menggemburkan tanah. Pembumbunan biasanya dilakukan setelah panen atau bersamaan dengan pemupukan.
Pemangkasan/ perompesan
Pemangkasan dilakukan apabila benih sudah tumbuh setinggi 80 cm atau tunas yang tumbuh di bawah 60 cm, selain itu pemangkasan dilakukan pada, tunas-tunas ujung beberapa ruas dari pucuk 4 - 6 mata dan bekas tangkai buah kanopi yang tidak subur, cabang yang berpenyakit dan tidak produktif, cabang yang menyulitkan pelengkungan ranting atau daun yang menutupi buah. Pemangkasan dilakukan sejak umur 3 bulan sampai didapat bentuk yang diinginkan (4 tahun - 5 tahun). Perompesan dilakukan untuk mematahkan masa dorman di daerah beriklim sub tropis/ sedang. Di daerah tropis perompesan dilakukan untuk menggantikan musim gugur di daerah iklim sub tropis. Perompesan dilakukan baik secara manual oleh manusia menggunakan tangan 10 hari setelah panen maupun dengan menyemprotkan bahan kimia seperti urea 10 % ditambah ethrel 5000 ppm yang diberikan 1 minggu setelah panen 2 kali dengan selang satu minggu.

Drainase dan Penyiraman
Untuk pertumbuhannya, tanaman apel memerlukan pengairan yang memadai sepanjang musim. Pada musim penghujan masalah kekurangan air tidak ditemui tetapi harus diperhatikan jangan sampai tanaman terendam air. Karena itu perlu drainase yang baik. Sedangkan pada musim kemarau masalah kekurangan air harus diatasi dengan cara menyirami tanaman sekurang-kurangnya 2 minggu sekali dengan cara dikocor.
Pelengkungan Cabang
Setelah dirompes dilakukan pelengkungan cabang untuk meratakan tunas lateral dengan cara menarik ujung cabang dengan tali dan diikatkan ke bawah. Tunas lateral yang rata akan memacu pertumbuhan tunas yang berarti memacu terbentuknya buah.

Penjarangan Buah
Penjarangan dilakukan untuk meningkatkan kualitas buah yaitu besar buahnya seragam, kulit baik, dan sehat. Caranya dilakukan dengan membuang buah yang tidak normal (terserang hama penyakit atau kecil-kecil). Untuk mendapatkan buah yang baik satu ranting hendaknya berisi 3 - 5 buah.
8). Pembelongsongan buah/ Penutupan Buah
Pembelongsongan atau penutupan buah dilakukan 3 bulan sebelum panen dengan menggunakan kertas minyak berwarna putih sampai ke abu-abuan/ kecoklat-coklatan yang bawahnya berlubang. Tujuannya agar buah terhindar dari serangan burung dan kelelawar serta menjaga warna buah agar tetap mulus.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS
Free Blooming Pink Rose Cursors at www.totallyfreecursors.com